Kamis, 02 Juli 2020

Jurnal Alam Pintu Menuju Seni ( Narasi Seni Bagian 4 - selesai )

Di sebuah kota di Italia, Leonardo kecil berlari-lari mengejar seekor bajing, setelah si  bajing  diam terpaku lalu sibuk mengerat biji pinus di tangannya, Leonardo cepat-cepat mengeluarkan pensil dan kertas gambarnya dari saku. Kemudian dengan sigap membuat coretan-coretan  sambil mengamati bajing kecil tersebut. Hari lainnya , Leo mengintai seekor kumbang yang sedang bersembunyi di ranting pohon, kemudian juga membawa pulang seekor capung yang ditangkapnya di dekat rawa. Di hari yang lain lagi dia  membawa pulang cicak dan ular kecil. Berbagai binatang yang sudah dia gambar terkadang disatukan menjadi seekor binatang yang mengerikan bagai dalam dongeng.

Di bagian Eropa yang lain, di Paris, Pak Claude sedang santai  melukis di atas canvas dengan cat minyak, sambil memandangi keindahan bunga-bunga water lily di tamannya.  Berhari-hari  bahkan bertahun-tahun dia melakukan hal tersebut tanpa rasa jenuh hingga menghasilkan sampai 250 karya lukis bertema water lilies.

Water Lilies and Japanese Bridge - Claude Monet

Rabu, 01 Juli 2020

Beda Sudut Beda Keindahan ( Narasi Seni Bagian 3 )

Musim semi tahun 2017 , saya bersama seorang teman menginjakkan kaki pertama kali di Narita. Sambil mengumpulkan nyawa setelah 7 jam lebih duduk manis menunggangi pesawat dari Denpasar, kami mencari makan di sekitar bandara. Sebagai backpacker, harus bertahan hidup dengan memilih menu seirit mungkin. Pilihan jatuh pada salah satu resto udon, singkatnya saya memilih menu udon yang termurah, harganya tidak sampai 300 yen, sebuah menu udon tanpa daging , disertai kangkung sebagai penggantinya. Saya tambahkan kremes dan kuah hangat pada mangkuk udon yang sudah di tangan. Setelah itu kami memilih tempat duduk dekat jendela. Setelah berdoa, langsung udon saya nikmati.  Rasanya sungguh nikmat , meyeruput kuah gurih hingga berbunyi slurrrppp..., menggigit tekstur krenyes-krenyes , sambil mengamati dari kaca jendela,  puluhan  pesawat yang naik-turun bergantian di landasan. .

Terpapar Karya Seni ( Narasi Seni Bagian 2 )

Pada suatu hari , dimana hari untuk berdiam di rumah belum tiba, saat dimana tante Corona belum menunjukkan kebengisannya. Saya asyik menyetir di tengah teriknya matahari , ditemani Karen yang duduk di samping. Melewati kawasan pekojan yang rame dan ruwet, mobil  maju-mudur mengatur posisi, petugas parkir riuh menyemprit peluit dan melambai-lambaikan tangan. Para tukang panggul disibukkan kegiatan bongkar muat. Tiba-tiba Karen berteriak “Mah... ada Monalisa!” sambil  clingak-clinguk mencari saya bertanya "Mana..mana?"  “Itu disana!” dengan tangan menunjuk ke atas tertuju pada sebuah baliho iklan toko bahan bangunan. Yah, dan benar terpampang nona Monalisa dengan senyum khasnya. Saya sudah lupa kapan kami pernah membahas lukisan karya Leonardo DiCaprio  Leonardo da Vinci tersebut, tapi saya bahagia juga saat Karen berhasil mengingat judul lukisan dan peka akan kehadiran sebuah karya seni di depan mata. 

difoto dari Pustaka Dasar "Leonardo da Vinci"

Selasa, 23 Juni 2020

Seni itu Universal ( Narasi Seni Bagian 1 )

Masih melekat di ingatan kita bagaimana saat kecil kita terdoktrin untuk menggambar pemandangan selalu dengan gambar dua gunung, jalan raya menuju gunung, dengan sawah di samping dan sebuah rumah di tengah sawah. Bagi angkatan gen-X mungkin juga masih ingat acara Pak Tino Sidin di TVRI yang memuji gambar tiap anak yang ditunjukkan dan berkata "Ini punya Budi...bagusss..., gambar ini dari Tini... bagusss" walaupun saat itu sebenarnya tidak semua gambar yang ditunjukkan bagus ( menurut saya ).

hasil googling

Kamis, 11 Juni 2020

Seni Berbahasa Asing ( Narasi Kamisan )


Snowpiercer , sebuah film berbahasa Inggris, karya Bong Joon Ho beberapa tahun lalu, namun bukan Chris Evan yang bikin saya tertarik melainkan terselipnya om Song Kang Ho dan Go Ah Sung sebagai  pasangan bapak dan anak warga Korea yang tetap berbahasa Korea. Walau demikian perbedaan bahasa tidak jadi penghalang ( bahkan om Song dan Ah Sung gak perlu  repot belajar dan menghafal dialog bahasa Inggris segala :D ). Di dalam film mereka berkomunikasi antar bahasa dengan  sebuah perangkat di tangan untuk penerjemah real-time.

Minggu, 19 April 2020

Living books Sebagai Asupan Budi

Sabtu malam, tim Charlotte Mason Indonesia - Jakarta ( CMid Jakarta ) menggelar workshop online "Mengasupi Budi dengan Living Books", dengan Mbak Ayu dan Mas Dodit sebagai narasumber. Walaupun saya sendiri memulai berkenalan dengan metode Charlotte Mason ( CM )  sudah cukup lama namun memang soal living books ini tidak akan pernah tuntas dipelajari, begitulah keunikan dari CM. Masih banyak hal baru yang saya dapatkan dari workshop semalam dan membuat saya lebih memahami esensi  sebuah living books.



Rabu, 22 Mei 2019

Marriage is a verb not a noun !



Setiap wanita single pasti pernah memimpikan sebuah pernikahan yang indah seperti di dongeng-dongeng masa kecil, di mana suatu hari dia bertemu dengan pangeran kuda putihnya dan pangeran tersebut menikahinya, kemudian ... Happily ever after. Nah di dongeng kan gak pernah diceritakan bagaimana kelanjutan pernikahan putri dan pangeran tersebut. Makanya gak heran wanita single ingin segera menikah, supaya segera hidup bahagia selamanya, berpikir bahwa setelah menikah hidup akan lebih enak, lebih terjamin, bebas dari masalah keluarga, dan seterusnya.